Kamis, 21 Januari 2021

Tornado Asia

Nabila Sayyidinia Imani (12 IPA 3)




(Zania, Perumahan Indah - Jakarta)

 

Ayah, Ibu jika kalian sadar kalian tidak cocok untuk bersama mengapa kalian memutuskan untuk menikah dan memiliki anak? Kalian terlalu sibuk dengan perkelahian kalian yang tiada ujungnya. Dan aku terlalu jenuh untuk menghadapi hari-hariku yang melelahkan. Aku pernah berfikir apa gunanya aku dilahirkan ke dunia ini? Apakah kalian memiliki anak hanya untuk kalian jadikan pelampiasan amarah saja. Pernahkah kalian berfikir tentang perasaan ku? Atau sekedar bertanya bagaimana hariku? Jika aku bertemu dengan Tuhan di akhirat nanti aku ingin meminta suatu hal pada Tuhan, tolong izinkan aku merasakan apa artinya cinta, kasih sayang dan perhatian, karena di kehidupan ku yang sebelumnya aku tidak memiliki kesempatan merasakannya ataupun hanya sekedar mengenal perasaan itu.

Teruntuk Ayah dan Ibu jika kalian menemukan surat ini mungkin aku sudah bertemu dengan Tuhan di akhirat, Zania harap Ayah dan Ibu tidak menangisi kepergian Zania. Ayah, Ibu,  jangan tangisi kepergian Zania tapi tangisi lah kesempatan menjadi orang tua yang kalian lewatkan, ego yang kalian utamakan, dan berbagai hal yang kalian permasalahkan. Zania harap kepergian Zania membuat kalian sadar, Zania harap Ayah dan Ibu berhenti bertengakar dan bisa berdamai dengan diri kalian masing-masing.

Salam perpisahan Zania

     Aku sudah selesai menulis suratku untuk Ayah dan Ibu, surat itu berisi perasaan dan pertanyaan yang selama ini ingin aku ungkapkan namun selalu saja gagal karena aku tidak memiliki keberanian untuk berbicara dengan orang tua ku dari lubuk hati terdalam. Aku sengaja mempersiapkan surat ini untuk berjaga-jaga jika saja aku mati karena overdosis obat-obatan. Aku harap suratku dapat mengetuk pintu hati kedua orang tuaku. Entah sudah berapa banyak obat yang ku minum, aku sudah tidak pernah menghitung lagi berapa tablet yang ku minum, ketika aku membutuhkan obat penenang maupun obat tidur aku selalu mengambil sebanyak mungkin tablet obat-obatan tersebut tanpa peduli dosis yang tertera di label kemasannya.

Obat –obatan adalah sahabatku yang selalu membuatku bisa melewati hari yang kurasa berat untuk ku lalui, di setiap ada permasalahan obat penenanglah yang membantuku menghadapi permasalahanku, di saat hari-hariku  terasa begitu berat dan melelahkan obat tidurlah yang membantuku melewati hari-hariku.  Aku  mengenal obat-obatan dari internet, aku pun tertarik mencobanya dan sekarang akhirnya aku menjadi ketergantungan. Ya mau bagaimana lagi, tidak ada orang yang bersedia mendengar keluh kesalku, ataupun sekedar mengajakku berbicara.

 Orang-orang di sekitar mengucilkan ku, mencemooh, bahkan memaki ku, mereka menganggap ku sampah masyarakat, tidak cukupkah kondisi rumah yang membuatku tersiksa? Mengapa nasibku begitu buruk, dimanapun aku berada, aku merasa diasingkan, hampa, dan tidak berguna. Paman yang dulu begitu kusayangi, bahkan satu-satunya orang yang peduli padaku menghilang entah kemana, sekarang aku benar-benar merasa sendiri di dunia yang banyak penghuninya ini.

********************

(Orlando, Bandara Halim Perdana Kusuma – Jakarta)

 

Zania apa kabar mu nak di sana? Paman harap engkau baik- baik saja, maafkan paman yang pergi mendadak tanpa memberitahu mu terlebih dahulu, paman bingung harus bagaimana menjelaskannya, usiamu pada saat itu juga masih sangat kecil sehingga paman bingung harus berkata apa. Jadi paman putuskan pergi tanpa berpamitan, paman harap Zania dapat mengerti. Sekarang aku memutuskan untuk kembali ke Jakarta setelah menyelesaikan beberapa masalah yang menimpa perusahaanku di Moskow beberapa tahun yang lalu.

 Aku harus secepatnya pergi menemui Zania karena yang aku tau dari dulu dia tidak pernah baik-baik saja, bagaimana mungkin dia bisa baik-baik saja dengan kondisi rumah yang seperti itu, ditambah lagi sodaraku sering memukuli Zania jika dia marah, padahal Zania tidak bersalah, dia hanya bisa melampiaskan amarahnya pada Zania tanpa peduli bahwa yang dia pukuli adalah putri satu-satunya, darah dagingnya sendiri.

(Di perjalanan menuju rumah Zania)  “ Ada apa Kang Ardi? “ kata Orlando

“ Itu tuan, di depan gak tau ada apa ramai banget, mereka berkerumun pas di tengah jalan tuan, jadi kita gak bisa lewat sebelum kerumunan itu bubar tuan. “ kata Ardi sang supir pribadi Orlando.

“ Ya sudah, biar saya yang turun liat ada apa di sana. “

“ Baik tuan. “

Aku pun turun dan menembus kerumunan warga yang ada di tengah jalan tersebut. Alangkah terkejutnya aku melihat wajah seorang gadis kecil yang terasa familiar bagiku, wajah ini….. astaga Zania, tidak salah lagi ini Zania.

 “ Bapak-bapak, Ibu-ibu ada apa ini? Kenapa anak ini terbaring di tengah jalan? “ tanya Orlando.

“ Saya liat tadi anak ini tiba-tiba pingsan saat dia mau menyebrangi jalan, untung saja jalanan sepi sehingga tidak terjadi kecelakaan, kami juga gak tau pak kenapa anak ini bisa pingsan. “ Jawab salah seorang warga yang berada di sana.

“ Saya pamannya anak ini, biar saya saja yang bawa dia kerumah sakit. “

Aku pun perlahan-lahan menggendong tubuh mungil Zania dibantu warga yang lainnya memasukkan ke mobil, aku bergegas bersama dengan Kang Ardi, supir pribadiku membawa Zania ke rumah sakit.

 Sesampainya di rumah sakit Zania segera ditangani oleh pihak medis, aku masih belum tau apa yang terjadi pada Zania, Zania masih melakukan pemeriksaan medis. Walaupun orang tua Zania tidak begitu peduli pada Zania, aku tetap harus menghubungi mereka. Ya aku harus menghubungi Dirga dan Anastasya walaupun mereka enggan untuk datang. Tapi mereka harus tau keadaan Zania.

********************

(Dirga dan Anastasya, Perumahan Indah-Jakarta)

 

“ Siapa sih yang nelpon ganggu aja, Halo… “

“ Halo Dirga ini aku Orlando “

“ Oh ternyata kamu bang, ngapai kamu menghubungi aku, masih hidup ya ternyata kamu hahaha “

“ Sudah lah, hal itu nggak penting, sekarang cepat ke rumah sakit, nanti aku sharelock, Zania masuk rumah sakit. “

“ Hah masuk rumah sakit?, kamu kan di Moskow tau dari mana keadaan Zania? “

“ Aku baru aja pulang, pas mau kerumah mu aku ngeliat Zania pingsan di tengah jalan. “

“ Sudahlah bang, kau saja yang urus anak itu, aku lelah. “

“ DIRGA… dia anakmu, aku gak mau tau pokonya kamu sama Anastasya sekarang juga harus nyusul ke rumah sakit atau aku cabut hak kuasamu atas properti di Surabaya. “

 Arg…. Kenapa aku ngak bisa tenang sehari aja, sudahlah aku kasih tau Anastasya dulu kalau anak itu masuk rumah sakit. Tok… tok… tok… ( Dirga sedang mengetuk pintu kamar Anastasya)

“ Apa? “

“ Anak itu masuk rumah sakit. “

“ Anak siapa sih? Apa hubunganya sama aku?”

“  Zania masuk rumah sakit. Abangku liat dia pingsan di jalan pas menuju ke sini. “

“ Oh abang mu balik lagi ke Indonesia. Ya kenapa gak suruh dia aja sih yang ngurus, aku lelah tau nggak. “

“ Abang bilang kalau kita nggak segera ke sana, dia mau cabut hak kepemilikan properti ku yang ada di Surabaya, kalau hak kepemilikan properti ku yang ada di Surabaya di cabut kamu pikir kamu masih bisa shopping ataupun clubbing hah? “

“ Iya, iya aku ganti baju. “

“ Ku tunggu di bawah. “

********************

(Rumah Sakit Royal Taruma-Jakarta)

 

“ Apakah anda kerabat pasien? “

“ Ya, saya pamanya, dok. “

“ Silahkan keruangan saya, ada hal penting yang ingin saya bicarakan. “

“ Baik dok. “

“ Jadi bagaiman kondisi Zania, dokter? “

“ Ini hasil pemeriksaannya ( sambil menyodorkan sebuah kertas yang berisi hasil pemeriksaan), berdasarkan hasil pemeriksaan Zania pingsan karena overdosis obat penenang dan obat tidur pak. Karena dikahwatirkan terjadi hal yang tidak diinginkan maka bapak harus menandatangani beberapa izin pemeriksaan lanjutan untuk memulihkan kondisi pasien, salah satu pemeriksaannya yaitu pemeriksaan pisikis. Seperti yang kita ketahui tidak mungkin seseorang mengonsumsi obat penenang tanpa alasan apalagi sampai overdosis, karena dari itu saya sarankan Zania mengikuti pemeriksaan pisikis juga, jika anda tanda tangani izin pemeriksaannya saya akan aturkan jadwalnya. “

“ Baik dok, saya sudah menandatanganinya. “

“ Baik pak, kita akan tunggu kondisi pasien pulih dahulu, baru kita lanjutkan tahap pemeriksaan selanjutnya. “

        Dirga dan Anastasya pun sampai di rumah sakit.

“ Gimana bang kondisi Zania? “ Tanya Anastasya

“ Zania overdosis obat tidur dan penenang. “ Seketika Dirga dan Anastasya pun terkejut. Anastasya langsung pergi ke ruangan tempat Zania berada. Sesampainya di sana.

(Anstasya menatap Zania yang sedang tertidur pulas dengan tatapan iba) “ Sungguh malang nasib mu nak, andai saja kau tidak memiliki Ibu sepertiku, andai kau tidak terlahir ke dunia yang kejam ini, dari awal kelahiranmu adalah sebuah kesalahan, maaf aku tidak bisa menjadi ibu yang baik. Jika saja waktu bisa berputar kembali, aku akan mengubah keputusanku saat itu, dan sekarang mungkin kita sedang duduk di ruang keluarga, menonton tv bersama di dalam rumah yang sederhana namun penuh kehangatan.  Sekarang percuma saja aku berusaha memperbaiki semuanya karena sekarang benar-benar terlambat.”

            Anastasya pun pergi meninggalkan Zania, di lubuk hari terdalam, Anastasya merasa iba, sedih, dan bersalah karena tidak pernah peduli dengan putrinya sendiri. Namun di sisi lain ketika melihat Zania, Ansatasya merasa jengkel dan membencinya karena Zania lah alasan Anastasya terus bertengkar dengan Dirga, bagi Ansatasya lahirnya Zania adalah sebuah kesalahan yang seharusnya tidak terjadi. Setelah Anastasya keluar dari ruangan tempat Zania berada Orlando berkata pada Dirga. “ Dir, kamu gak mau masuk liat kondisi anakmu?, tuh Anastasya udah selesai masuk. “

“  Aku pamit pulang dulu Bang, ayo Tasya. “

“ Dirga, seengaknya kamu masuk buat liat kondisi Zania, jangan egois ya kamu, dia anakmu, kamu gak bisa kayak gini ke Zania, kamu selama ini gak pernah benar jadi orangtua, seenggaknya disaat-saat kritis seperti ini kamu kasih lah sedikit perhatianmu ke Zania. “

            Karena Dirga malas untuk berdebat dengan abangnya akhirnya ia pun menuruti perkataan Orlando, dan pergi melihat keadaan Zania. Saat menatap Zania ada rasa sakit dan rasa kasihan yang menerjang batin Dirga. Melihat malangnya gadis kecil yang tidak tau apa-apa ini membuat hati Dirga sedikit luluh. Namun tetap saja Dirga tidak bisa mengabaikan bahwa Zania adalah bukti penghianatan yang dilakukan Anastasya.

“ Maaf aku tidak bisa menjadi sosok ayah bagimu, walaupun kau menganggapku ayah tapi sayang nak kau tidak tau apa-apa, aku tidak bisa menjadi ayahmu karena kamu memang bukan anakku. “

            Ya, Zania memang bukan lah anak dari Dirga, sebelum memutuskan menikah dengan Dirga, Anastasya pernah tidur dengan laki-laki lain, laki-laki itu adalah cinta pertama Anastasya, namun Anastasya tidak dapat menikah dengan laki-laki itu dikarenakan laki-laki itu ternyata selain seorang pembisnis yang terkenal di Amsterdam di juga merupakan seorang mafia, orang tua Anastasya yang mengetahui hal tersebut pun tidak mengizinkan mereka menjalin hubungan lagi. Waktu berlalu, cinta pertama Anastasya entah pergi kemana,menghilang tanpa kabar bagai ditelan bumi. Di sisi lain Anastasya dijodohkan dengan anak rekan bisnis Ayahnya.

            Dirga yang awalnya tidak mengenal Anastasya, saat di pertemukan dengan Anastasya oleh orang tua mereka,Dirga pun mulai jatuh cinta pada Anastasya. Karena kegigihan Dirga yang berupaya mendapatkan cinta Anastasaya, membuat hati Anastasya luluh. Di sisi lain Anastasya terlanjur hamil, Dirga dan Anastasya terlanjur telah bertunangan, Anastasya pun tidak sempat memberi tahukan bahwa ia sedang mengandung, Anastasya tidak berani mengatakan yang sebenarnya pada Dirga karena ia terlanjur mencintai Dirga dan takut jika Dirga mengetahui Anastasya sedang mengandung maka ia tidak bisa menerimanya.

            Anastasya telah mencoba berbagai cara untuk mengugurkan kandungannya tapi tetap saja tidak berhasil, Anastasya sempat berfikir untuk melakukan aborsi, tapi ia terlalu takut untuk melakukannya. Pada akhirnya lambat laun semua kebenaran tentang Anastasya pun diketahui oleh Dirga. Karena dari itu semenjak Dirga tau kebenaran tentang anak yang di kandung Anastasya, Dirga dan Anastasya pun selalu bertengkar, mempermasalahkan berbagai hal, bahkan hal-hal kecil sekalipun.

            Tidak ada yang tau kebenaran tentang siapa ayah kandung Zania, selain Anastasya dan Dirga, bahkan Orlando pun tidak tau bahwa Zania bukanlah anak Dirga. Dirga ingin menceraikan Anastasya, tapi dia takut citranya sebagai pembisnis sukses akan hancur, gosip yang menyebar di masyarakat akan mempengaruhi perusahaannya, di tambah lagi jika wartawan mencari tau apa yang sebenarnya terjadi, jika wartawan tau Zania bukanlah anak kandung Dirga, perusahaanya akan benar-benar terancam, dan citranya pun akan hancur. Karena dari itu Dirga berusaha untuk tetap diam, dan memutuskan untuk tidak menceraikan Anastasya. Walaupun ia sudah tidak tahan karena terus-menerus bertengkar dengan Anastasya di rumah.

********************

            Zania yang semakin lama-semakin pulih pun melanjutkan tahap pemeriksaanya. Orang tua Zania hanya sesekali menjenguk Zania, itu pun atas perintah dan ancaman Orlando. Yang selalau mendampingi Zania di rumah sakit hanyalah Orlando, dan jika Orlando ada urusan Kang Ardi supir pribadi Orlando lah yang menemani Zania. Beberapa hari kemudian, hasil tes tahapan lanjutan pun sudah keluar.

            “ Bagaimana dokter hasilnya? “

“Berdasarkan hasil tes pisikis dan pisikologi Zania menderita Dissociative Identity Disorder atau biasa di sebut dengan kepribadian ganda. “

“ Gak mungkin dok, Zania gak mungkin mengidap gangguan mental, memang Zania terbilang anak yang butuh perhatian lebih karena kondisi broken home yang dia alami, tapi saya yakin Zania anak yang kuat, gak ini gak mungkin. “

“ Mungkin saja pak karena usia Zania masih muda, tekanan yang dia rasakan akan kondisi broken home membuatnya memiliki kepribadian ganda, karena diusia Zania yang masih muda harusnya dia mendapatkan perhatian lebih, mungkin juga Zania pernah mengalami peristiwa traumatis yang terjadi secara berulang-ulang di masa kanak-kanak membuatnya memiliki kepribadian ganda. “

“ Lalu saya harus bagaimana dokter? “

“ Saran saya Zania melakukan terapi, usahakan jangan sampai sikis Zania tertekan lagi, berikan dia lebih banyak perhatian, karena kita tidak tau kapan saja kepribadian Zania yang satunya muncul, dan bagaiman kepribadian Zania yang satunya tersebut.”

********************

            Orang tua Zania seperti biasa tidak mempedulikan Zania walaupun tau bagaimana kondisi  Zania. Karena kurangnya perhatian dan kondisi rumah yang membuatnya selalu tertekan Zania pun mencari kesenangan di luar sana dan akhirnya terseret oleh pergaulan bebas. Sampai suatu malam ketika Zania baru saja pulang dari Clubbing bersama teman-temannya, ia singgah di salah satu warung yang tak jauh dari rumahnya untuk membeli beberapa minuman segar serta obat agar rasa mualnya akibat kebanyakan minum alkohol sedikit berkurang. Di warung tersebut Zania tak sengaja mendengar tetangganya yang sedang berkumpul membicarakan tentang dia.

            “ sht….. coba liat itu anak perempua kok baru pulang tengah malam sih. ”

“ Maklum dia kan anak pembisnis sukses, ya namanya bergelimang harta gitu deh kerjaannya menghamburkan uang aja terus. “

“ aku denger-denger dia anak nakal ya, kerjaannya mabuk-mabukan, clubbing, diskotik, anak perempuan kok kelakuannya gitu, yakin deh aku masa depannya suram itu. “

“ Anak kayak gitu sih jangankan punya masa depan, berharap aja kayaknya gak mungkin, mau jadi apa anak itu kalau udah besar nanti, pasti gak bisa apa-apa, apalagi cari kerja. Anak kayak gitu mah kerjaannya jadi beban orang tua aja, ini nih yang bikin sampah masyarakat numpuk. “

“ katanya sih aku denger-denger dia sakit mental gitu, sudah salah pergaulan sakit mental lagi, udah lah anak kayak gitu gak ada harapan, perusahaan mana yang mau nerima anak kayak gitu, sudah lah gak ada gunanya juga kita ngomongin bibit-bibit sampah masyarakat hahaha….”

            Zania sudah sering jadi bahan pembicaraan orang-orang terutama tetangga di sekitarnya, ia ingin marah namun apalah daya gosip-gosip itu seperti memberikan tamparan segar di wajahnya, akhirnya Zania pun tersadar dia tidak bisa seperti ini terus, dia tidak bisa terjebak dengan kondisi, maupun masalalunya, untuk membungkam mulut orang-orang itu Zania harus bangkit dan menunjukkan pada dunia bahwa apapaun latar belakangmu, bagaimanapun kondisimu, masa depan ditentukan oleh pilihan yang kita ambil, terlepas dari bagaimanapun latar belakang maupun kondisi kita.

            Akhirnya Zania memutuskan untuk berubah dan meningalkan gaya hidupnya yang dulu, dengan mengandalkan relasi yang dia punya Zania perlahan-lahan membangun bisnis dengan modal yang susah payah dia kumpulkan sendiri. Dalam perjalanan membangun bisnis banyak rintangan yang dilalui,terlebih lagi cemooh masyarakat dan kepribadian ganda yang dideritanya membuat rintangan yang dihadapi Zania semakin terasa berat, namun Zania tidak pernah menyerah maupun putus asa. Empat tahun sudah berlalu. Cinta, penghianatan, tipu muslihat, kerugian, ambisi, perebutan saham, dan kecurangan adalah hal-hal yang menghiasi perjalanan Zania dalam membangun bisnis. Akhirnya Zania mampu membangun perusahaan properti terbesar di Asia dan sekarang sudah memiliki 8 cabang di beberapa negara.

            Sebagai seorang pembisnis Zania dijuluki Tornado Asia karena Zania yang baru 4 tahun terjun kedunia bisnis bagai Tornado yang menyapu apa pun yang dilewatianya, Zania berhasil menyingkirkan para pesaingnya dengan strategi bisnis yang dia buat, karena kecerdasanya membuat strategi serta kerja kerasnya, dalam 4 tahun Zania sudah mampu menjadi pengusaha properti nomor satu di Asia, bukan hanya di bidang properti, bahkan di bidang industri.

            Banyak orang yang terinspirasi dari kisah Zania, dan perjuanganya dalam membangun bisnis, Zania sering diundang menjadi motivator maupun public speaker di event luar, maupun dalam negeri. Kisah Zania membuat orang sadar bahwa masa depan tidak tergantung bagaimana masa lalumu, apa latar belakangmu, siapa kamu maupun apa statusmu. Masa depan tergantung apa yang kamu pilih, cara mu menjawab tantangan yang ada, dan tidak mudah menyerah serta terus berusaha di segala situasi maupun kondisi. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar